Hai semua..Nyambung berita yang lalu kalau saya akan mengasuh rubrik tanya jawab di majalah Le Mariage, Mau pengumuman, sekarang Majalah Le Mariagenya sdh terbit dan kolom konsultasinya sdh ada. Silahkan ke website mereka di http://www.mylemariage.com/index.php .. disana bisa dilihat daftar pick up pointnya di seputar jakarta, surabaya, bandung, bali, Singapore, Salatiga, Banten dan Solo (sekarang masih gratis) atau bisa juga download edisi tersebut dari website mereka. Tolong kirimkan pertanyaan seputar relationship misalnya masa pacaran, persiapan pernikahan dan even masalah perkawinan ke metha@mediakreasi.com dengan judul marital counseling. Makasih atas dukungannya....
ini Q&Anya:
Dear Lia,
Saya baru bertunangan selama 3 bulan dan akan menikah tahun depan setelah kami lulus kuliah. Kami sudah berpacaran selama 2 tahun. Selama kami berpacaran, kami tidak pernah “berantem besar”. Tunangan saya orangnya baik, penyabar , pendiam dan suka mengalah. Kedua keluarga pun saling merestui. Masalahnya, minggu lalu kakak perempuan saya baru memberitahukan pada keluarga kami kalau ia akan bercerai (ia sudah menikah selama 5 tahun dengan 2 orang anak). Anehnya, semenjak saat itu saya sering terpikir bagaimana perkawinan kami nanti. Saya takut kalau saya pun nanti akan bercerai. Yang saya takutkan adalah, kakak saya yang telah berpacaran selama 8 tahun sebelum menikah saja bercerai, bagaimana saya yang “baru” pacaran 2 tahun? Tunangan saya tidak tahu mengenai kekhawatiran saya ini. (Aya, Jakarta)
Jawaban:
Dear Aya,
Pertama-tama selamat atas pertunangannya, ya... Dari surat kamu ada beberapa hal menarik yang bisa kita perhatikan dan bahas sedikit. Yang pertama adalah pertanyaan tentang “Seberapa lama sih seseorang harus pacaran supaya perkawinannya sukses?” . Yang kedua , adalah kenapa timbul rasa takut di diri kamu sekarang, dan mungkin mau diapakan rasa takut ini. Dan yang ke tiga mungkin kamu mulai mempertanyakan gimana kamu dan tunangan kamu ke depannya, apakah perkawinan kamu akan selamanya ataukah akan kandas di tengah jalan seperti yang di alami kakakmu. Kita bahas satu per satu ya…
Soal lama pacaran, sebenarnya panjang pendeknya masa pacaran bukanlah hal yang menjamin sukses tidaknya perkawinan. Kesuksesan perkawinan itu sendiri di ukur oleh 2 hal. Yang satu namanya stabilitas perkawinan , maksudnya apakah pasangan itu berpisah/ bercerai atau tidak. Ukuran yang kedua namanya kepuasan perkawinan. Karena banyak orang yang tetap menikah tapi salah satu atau keduanya tidak mengalami kepuasan/ kebahagiaan di dalam perkawinannya ini. Nah, tentunya aya tidak hanya ingin tidak bercerai, kan? Nah perkawinan yang memiki kepuasan tinggi itu memiliki ciri-ciri tertentu, beberapa yang penting misalnya komunikasinya lancar dan sehat, cara menyelesaikan konfliknya juga sehat. Ciri-ciri selanjutnya saling menghargai (respect) dan saling percaya dan dapat di percaya (trust and trustworthyness). Pasangan yang memiliki kepuasan perkawinan tinggi juga memiliki pengetahuan yang banyak mengenai pasangannya lewat perhatian dan keterbukaan. Jadi yang penting adalah kualitas hubungan selama pacaran bukan durasinya. Selama Aya dan pasangan memiki ciri-ciri tersebut di atas, rasanya tidak perlu khawatir. .
Rasa ragu-ragu atau bahkan takut sebelum pernikahan itu sangat wajar, karena kita akan berkomitmen untuk bersama orang yang sama seumur hidup kita. Rasa takut yang dialami Aya pun wajar karena ada kejadian yang dialami oleh kakak Aya baru-baru saja. Tapi, kapankah kita tahu bahwa perasaan itu hanya kekhawatiran saja ataukah rasa takut itu benar-benar merupakan “warning”? Tentunya orang yang paling tahu tentang hubungan kalian adalah kalian berdua. Selama ini apakah ada hal2x yang bisa di jadikan petunjuk bahwa hubungan kalian tidak sehat? Ada 3 cara mengatasi kekuatiran kamu. Yang pertama: Buka mata dan telinga dengarkan dan perhatikan dengan lapang dada komentar-komentar atau sikap-sikap teman2x dan saudara2xmu terhadap tunanganmu. Perhatikan bagaimana sikap dia dalam menghadapi orang yang ada dibawahnya, sejajar dengannya, dan yang ada di atasnya. Perilaku tunanganmu dapat menunjukkan bagaiman karakter nya. Kedua, cobalah berdialog dengan kakak, tanyakan apa yang menjadi pelajaran baginya mengenai hubungannya yang lalu, mungkin kamu bisa mendapatkan beberapa pelajaran juga. Ketiga kalau masih ragu juga, ajaklah tunangan kamu ke ahli yang memang mendalami masalah keluarga dan perkawinan untuk menjalani konseling pranikah, atau konseling setelah menikah. Gunanya adalah untuk memperdalam pengertian diantara kalian berdua, supaya kalian lebih jelas mengenai harapan2x dan ketakutan2x masing-masing pihak akan perkawinan dan juga untuk belajar komunikasi dan menyelesaikan konflik yang lebih sehat. Pencegahan tentunya lebih baik dari mengobati , kan? Apa lagi kalian berdua saling mencintai, Best wishes to you both…