Dear Pengasuh Rubrik,
Saya seorang pria (26) dan telah bertunangan dengan seorang gadis (24). Kami sudah setahun berpacaran, dan dipertemukan lewat seorang teman. Untuk pacar, saya adalah pacar “seriusnya” yang pertama, sementara dia adalah pacar serius saya yang ke sekian. Dia baru saja lulus kuliah tahun lalu dan sudah bekerja, jadi dia ingin saya bicara dengan orang tuanya untuk secepatnya dinikahkan. Saya sih oke saja, karena selama “jalan bareng” gak ada masalah. Keluarga kami juga dari suku dan agama sama, pendidikan kami pun tingkatnya sama. Masalahnya, saya sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pacar-pacar terdahulu, tapi tidak dengan yang sekarang. Memang saya ingin berhenti dan tidak mau melakukan hubungan lagi sampai dengan saya menikah nanti. Terus terang saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Apakah saya harus memberitahu pacar mengenai hal ini? Saya tidak tahu bagaimana reaksinya apabila saya bicara jujur dan saya takut saya akan menyakiti dia. Please ya mbak, saya bingung.
Riko, Bandung
Halo Riko yang sedang bingung.
Kejujuran adalah modal dasar suatu hubungan. Jujur itu termasuk jujur pada diri sendiri dan pada pasangan. Termasuk jujur mengenai sejarah aktifitas seksual kita. Terkadang orang menganggap “what you don’t know won’t hurt you”. Persepsi umum itu sebenarnya muncul karena kita tidak mau ego kita terluka, jadi hanya semacam mekanisme pertahanan saja. Jadi banyak orang sebenarnya memilih untuk tidak tahu dan tidak mau tahu karena menurut mereka hal tersebut lebih “aman” dan “nyaman”. Untuk masalah kesehatan, sayangnya hal itu sangat tidak dianjurkan. Hal–hal yang kita tidak tahu justru akan membahayakan, bukan hanya diri kita tetapi juga orang lain.
Semenjak aktif secara seksual, apakah anda sudah pernah memeriksakan diri ke dokter? Setiap kali seseorang membuka diri untuk aktif secara seksual, dia akan dihadapkan paling tidak pada salah satu atau kombinasi dari ketiga resiko; menjadi hamil (atau menghamili), terkena penyakit hubungan seksual, atau resiko untuk bertahan dengan orang yang tidak tepat untuk kita hanya karena sudah berhubungan seksual. Masalahnya tanda-tanda terjangkitnya seseorang berbeda-beda. Misalnya pada orang yang satu, ketika dia terkena HPV (Human Paplioma Virus) di kelaminnya akan terlihat bejolan-benjolan kecil semacam kutil, tetapi pada orang lain tanda tersebut tidak terlihat, meski bukan berarti ia bebas dari penyakit. Pada wanita, beberapa strain (jenis) virus ini bisa mengakibatkan kanker mulut rahim (cervical cancer) yang akibatnya tidak hanya kemandulan tapi juga kematian. Maka sangat berbahaya jika kita tidak mengetahui apakah ada penyakit-penyakit yang kita tularkan pada pasangan. Saran saya, jika belum pernah pergi ke dokter, untuk segera memeriksakan diri. Prosesnya tidak lama, dan dokter akan mengirimkan sampel yang didapat dari tubuh anda ke laboratorium untuk diteliti. Apapun hasilnya, anda wajib memberitahukan pada pasangan, apa lagi anda kelihatannya peduli pada pasangan.
Kalau anda khawatir bahwa pacar akan merasa sakit hati, ini sebenarnya adalah resiko setiap orang ketika ia mau melibatkan diri di suatu hubungan. Resiko untuk kecewa dan sakit itu selalu ada. Setiap kali kita memilih sesuatu, pasti ada konsekuensinya. Yang anda belum tahu, apakah setelah itu pacar akan meninggalkan anda atau tidak. Kalau iya, pastinya tidak akan mudah, tapi mungkin haI ini bisa dijadikan pelajaran untuk hubungan berikutnya. Perginya pacar pun mungkin karena berbagai hal, bisa karena dia “takut tertular”, mungkin karena merasa dibohongi, atau karena merasa bahwa nilai-nilai yang kalian anut ternyata berbeda, atau mungkin dia tersinggung karena anda mau berhubungan dengan yang lain tapi tidak dengan dia. Kalau pasangan tetap berada di sisi anda, pastinya karena dia menghargai kejujuran, mempertimbangkan dan kemudian memutuskan untuk menerima anda apa adanya. Jadi sikapnya itu harus dihargai dengan cara melindungi dia dengan mengajak melakukan pemeriksaan kesehatan kalian berdua secara teratur.
Kesamaan agama, suku dan pendidikan sebenarnya hanya penyumbang kecil saja dalam kualitas dan langgengnya hubungan. Yang lebih penting adalah persamaan nilai dan tujuan hidup, sikap saling menghargai dan percaya, serta komunikasi dan kemampuan pasangan tersebut untuk menyelesaikan konfliknya secara sehat. Jadi kalau alasan anda dan pasangan menikah hanya karena selama ini “fine-fine” saja dan hanya karena kesamaan latar belakang, mungkin ada baiknya mulai membicarakan hal-hal serius dalam pernikahan, seperti cita-cita sebagai individu, akan menjadi orang tua seperti apa kelak, pendidikan atau karakter bagaimana yang ingin diterapkan untuk anak, bagaimana mensuport keluarga, harapan dan ketakutan mengenai pernikahan, bagaiman menjaga keseimbangan kedekatan sebagai pasangan dan kedekatan dengan keluarga dan teman. Lalu mengenai kehidupan seksual, ini mencakup pengalaman dan harapan ke depan, juga jangan lupa bicarakan secara jujur, apa kekuatan dan kelemahan kalian sebagai pasangan.
Berbicara terbuka mengenai hal ini akan menaikkan kualitas pacaran, dan menjadikan pertemuan sehari-hari tidak hanya “yayang-yayangan” saja, tapi juga saling mendalami karakter dan pribadi. Kaji juga secara serius persamaan dan perbedaan di antara kalian, dan bagaimana hal itu dapat menambah kuat hubungan. Kalau merasa terlalu “ribet” dengan banyaknya hal yang harus dibicarakan, atau butuh pihak ketiga yang dirasa bisa netral dan objektif, memang sebaiknya hubungi psikolog yang mendalami khusus masalah perkawinan dan keluarga. Good luck ya..