natalia's posts with tag: counseling

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag counseling
Blog EntryLe Mariage Q&A: Disapproving ParentJul 18, '08 1:32 PM
for everyone

Dear Lia,

Ibu saya tidak pernah setuju terhadap pacar-pacar saya. Ada saja yang beliau tidak suka dari mereka. Ayah saya orangnya sangat pendiam dan tidak pernah bilang apa-apa kalau ibu sudah mengatur keadaan di rumah. Memang di antara ayah dan ibu, ibu lah yang merupakan pencari nafkah di rumah.  Saya anak paling tua dari 3 bersaudara kedua adik saya laki-laki. Yang satu kerja sebagai pelayar jadi hanya pulang 4 bulan sekali , dan kalaupun pulang selalu menginap di rumah temannya, yang satu lagi ada di Bandung buat kuliah. Saya sering merasa ibu tidak mau saya bahagia.  Kalau saya punya pacar saya akan bilang ke ayah, tapi kemudian ibu marah-marah karena dia mendengar dari orang lain. Kalau ibu marah, omongannya selalu “nyelekit”. Usia saya 32 tahun dan saya sudah bekerja. Baru-baru ini ada teman kantor yang baru pindah dari kota lain. Kami sudah melakukan hubungan badan, karena sejak bertemu, daya tarik itu tidak bisa kami elakkan. Sekarang dia mengajak menikah, masalahnya saya tidak berani bilang pada orang tua saya, tetapi kadang saya berpikir, apakah sebaiknya saya hamil saja dulu supaya ibu tidak menolak calon saya lagi? Terus terang saya ingin sekali keluar dari rumah, dan saya merasa inilah jalan keluar saya. Tapi saya juga kasihan pada ayah saya kalau beliau sendirian saja dengan ibu.

Mirta, Jakarta 

 

Dear Mirta,

Saya memang tidak mengetahui bagaimana ibu anda sesungguhnya, dan saya tidak bermaksud membela beliau. Hanya saja, seseorang itu bisa dibilang dewasa kalau dia bisa melihat suatu masalah itu dari sudut pandang orang lain. Sudahkah anda mencoba melihat soal hubungan anda dan pacar dari sudut pandang ibu? Walaupun menurut anda ibu tampaknya tidak ingin anda bahagia, cobalah kesampingkan dulu pikiran ini. Saya mengerti memang berat rasanya apabila kita tidak mendapatkan apa yang kita mau karena “tidak di bolehkan oleh orang lain” , tetapi cobalah teliti lebih lanjut apa yang membuat ibu tidak bisa menyetujui hubunganmu dengan pacar. Barangkali ini bisa menjadi bahan pertimbangan dan masukan untuk anda.  Cobalah tanyakan pada ibu bagaimana mengenai pengalamannya berumah tangga. Apakah ibu bahagia? Kalau tidak tanyakan apakah yang membuatnya tidak bahagia. Dan kalau ia bahagia apakah yang membuatnya bahagia.

Kalau di urut-urut , biasanya di bawah rasa marah adalah rasa kecewa, dan di bawah rasa kecewa biasanya ada ekspektansi, di bawah ekpektansi (harapan) ada rasa takut dan di dasar rasa takut biasanya ada rasa sakit. Jadi secara tidak langsung, biasanya kalau orang marah, ada rasa sakit yang dia coba untuk ekspresikan, nah rasa sakit ini biasanya karena pengalaman masa lalu yang mungkin tidak ada sangkut pautnya dengan Mirta. Nah kalau Mirta mau mengerti ibu, cobalah tanyakan pada beliau, apa sih yang beliau kecewakan dari Mirta/ pacar mirta itu. Lalu tanyakan, memang harapannya itu seperti apa buat mirta/ pacar mirta. Setelah itu tanyakan apa yang sebenarnya beliau takutkan akan Mirta alami (biasanya ini mulai timbul dari pengalaman pribadi) , apakah ibu Mirta takut bahwa Mirta akan mengalami apa yang beliau alami? Lalu usut lagi, apa rasa sakit yang pernah beliau alami di dalam hidupnya. Jadi setiap Ibu Mirta marah, biasanya itu pertanda bahwa “tombol sakit” nya tertekan, jadi sebelum bereaksi , coba cari tahu dulu.

Biasanya dengan berkomunikasi dengan cara begini, ibumu akan semakin terbuka dan mengerti perasaan Mirta, apa lagi Mirta sudah sangat dewasa, maka, jadilah anak yang “dewasa” buat ibu juga. Selain itu, akan banyak terungkap mengenai hubungan beliau dengan ayah. Saya kok merasanya ibu seolah-olah merasa “sendirian” di rumah, mungkin perilaku beliau juga tidak membuat orang mau “mendekat” karena cara pengekspresian yang mungkin cenderung “keras”. Tetapi cobalah menjadi orang “pertama” yang membuat beliau merasa di dengar, percaya deh anda akan mendapatkan banyak “surprises” setelah berbicara dengan ibu.

Mengenai anda dan pacar, memang pada ahirnya keputusan itu ada di tangan anda, tetapi, cobalah untuk tidak menambah masalah dengan berpikir dan berbuat secara impulsif , apa lagi dengan “secara sengaja” ingin hamil supaya ibu menjadi tidak ada pilihan. Cara ini menurut saya bukanlah cara yang terbaik, karena anda memanfaatklan” bayi dan pacar anda untuk “menyerang” ibu. Ingat , bayi dan pacar anda itu adalah orang luar yang tidak ada sangkut pautnya dengan hubungan anda dan ibu,  jadi tolong jangan di korbankan untuk “make a point ke ibu” karena nanti-nantinya taruhlah ibu “terpaksa” setuju, anda juga yang tetap harus menjalani hidupmu.. bagaimana kalau ternyata kalian berdua tidak cocok? Jadi sebaiknya, berkonsentrasilah satu per satu, coba kenali pasanganmu “di luar tempat tidur” sebanyak-banyaknya.  Cari kelebihannya, sehingga anda bisa mempromosikan kelebihannya ini di depan ibu, sehingga ibu bisa melihat apa yang mebuat anaknya jatuh cinta. Berilah “assurance” pada ibu bahwa anda bertanggung jawab pada hidup anda dan pacar juga bisa diandalkan sehingga “ketakutan” ibu tidak terjadi.  Perkawinan itu sekali lagi bukanlah ahir tetapi awal kehidupan mu bersama, jadi mulailah dengan tujuan perkawinan yang baik, bukan karena “kecelakaan” dan juga jangan menggunakan perkawinan sebagai “kendaraan untuk lari dari rumah” karena kalau ada apa-apa dengan perkawinan anda, anda akan makin merasa sendirian. Tentunya anda tidak mau merasa begini nantinya, bukan?


Start:     Jul 17, '08 7:00p
End:     Jul 17, '08 8:00p
Location:     Radio Otomotion Jakarta 97.5FM
So what's sexy? Cars and sex...
Dalam rangka Indonesia International Motor Show ke 16 tahun 2008, radio otomotion akan melakukan live broadcast dari JCC so, karena temanya adalah mobil... jadi yang asik ya ngomongin hubungan antara sex dan mobil.. termasuk mungkin posisi yang asik di mobil hehehhehehe

EventBed Time Stories with Lia Try SutrisnoJun 18, '08 8:55 AM
for everyone
Start:     Jul 3, '08 6:00p
End:     Jul 3, '08 7:00p
Location:     Otomotion Radio Jakarta 97.5 FM
Weekly Talkshow on Sex and Relationships. Part of Bumper to Bumper Show Hosted by Farhan and Roberto. Tune in Ya!!!!

Blog EntryLe Mariage Q & A : Difering Cultural BackgroundJun 18, '08 12:39 AM
for everyone

Dear Lia,

Saya dan tunangan saya akan menikah 2 bulan lagi. Kami datang dari latar belakang adat dan kebiasaan yang berbeda hingga kominukasi antara kedua keluarga tidak mudah. Hal ini terus terang membuat saya dan tunangan saya jadi lebih emosional, terutama mendekati hari “H”. Bagaimana saya dan tunangan saya harus bersikap?

Anonymous, Jakarta

Dear Anonymous,

Sebenarnya perbedaan adat dan kebiasaan tidak harus menjadi penghalang suatu hubungan yang sehat, bahagia dan menyenangkan asalkan kedua keluarga bisa selalu aware dan secara sadar tidak menstereotypekan keluarga lainnya. Stereotype adalah usaha manusia untuk mengerti manusia lain dengan melabel dan memasukkan orang-orang ke dalam suatu golongan/ kelompok yang dipercaya memiliki sifat-sifat tertentu yang belum tentu terbukti kebenarannya. Perlakukanlah masing-masing anggota keluarga sebagai individu dan cobalah untuk mengerti sudut pandangnya dan dengarkan apa yang sebenarnya ia kuatirkan, dengan demikian rasa “defensif” dan tegang akan menurun. Anda berdua sudah menjalin hubungan walaupun berasal dari keluarga yang berbeda, tentunya ada kecocokan (compatibility). Gunakan fakta ini untuk memberi “contoh” pada keluarga masing-masing bagaimana anda berdua saling menghargai satu sama lain.

Peran anda berdua adalah sebagai duta besar dalam dalam menghadapi keluarga masing-masing, penterjemah dalam menerangkan maksud yang jelas dan tidak emosional, jembatan dalam menghubungkan orang-orang di kedua keluarga dan juga penyaring yang maksudnya adalah tidak serta merta menyampaikan apa yang dikatakan suatu pihak kepada pihak lainnya secara mentah-mentah. Saringlah berdasarkan perlu atau tidaknya hal tersebut dan ubahlah kata-kata emosional menjadi kata-kata yang berfokus pada tindakan dan saran yang membangun. Memang butuh kedewasaan dan kesabaran dalam menjalankan peran-peran ini. Kedewasaan ditandai dengan kemampuan seseorang memisahkan antara pikiran dan perasaan, jadi tidak seluruhnya langsung dimasukkan ke hati dan direaksikan secara emosional. Kesabaran ditandai dengan kemampuan seseorang menunda reaksinya terhadap suatu kejadian, jadi seperti ada sponge yang menyerap perasaan itu dahulu, dan diolah sebelum dikeluarkan lewat suatu reaksi. Peran-peran ini sangat penting dipertahankan karena hubungan dengan keluarga besar akan terus berlanjut walupun hari perayaan pernikahannya sudah selesai.  

Ketegangan mendekati hari pernikahan antara kedua pasangan dan juga antara anggota keluarga memang sering dan wajar terjadi karena beberapa hal. Yang pertama adanya ekpektasi bahwa hari pernikahan itu harus sempurna.  Kedua, lancar atau tidaknya hari pernikahan sering kali dijadikan”pertanda”mengenai sukses-tidaknya hubungan di antara mempelai kelak, sehingga orang-orang menjadi tegang dan secara tidak sadar berfokus pada “apa kejadian buruk yang akan terjadi”. Tiga, banyak pula keluarga dan pasangan yang  akan menikah melupakan fokus utama dari hubungan tersebut. Yang lebih penting sebenarnya adalah pernikahan (the marriage) bukanlah hari pernikahan (the wedding). Bergesernya fokus ini sering menjadi “kendaraan” bagi  “ego” dan “haga diri keluarga”untuk muncul ke permukaan. Karena ketiga hal di atas, banyak orang yang terlibat secara sadar dan tidak sadar menjadi terlalu “menuntut” kesempurnaan. Tuntutan dan tekanan ini lah yang sebenarnya membuat persiapan dan hari pernikahan itu menjadi tidak bisa dinikmati lagi. Jadi satu hal lagi yang anda dan pasangan bisa lakukan ketika ketegangan mengenai hari perkawinan terjadi adalah saling mengingatkan bahwa pernikahan itu lebih penting daripada “hari H”nya, dan ingatkan untuk menggunakan logika dibandingkan emosi.

Juga, fokuskanlah diri anda dan pasangan pada hal-hal yang lebih penting, misalnya bagaimana setelah menikah kalian akan menghidupi diri sendiri, bagaimana mengatur keuangan, apakah kedudukan anda berdua selalu sejajar atau salah satu akan ada yang lebih dominan, apakah kedua belah pihak akan bekerja, bagaimana menyeimbangkan waktu antara waktu berdua dengan waktu untuk keluarga, teman dan pekerjaan. Work hard on your upcomming marriage!


Blog EntrySimple PleasuresMay 27, '08 11:07 AM
for everyone

Lately banyak bener orang curhat ke gue karena katanya lagi stress berat. Mostly soal kerjaan atau relationship atau kombinasi dari keduanya. Kayaknya suasananya ribeett banget.. jadilah gue tanya.. kapan terahir liburan? Kapan terahir senang2x, haha hihi dengan teman? Kapan terahir relax? Dari semua jawaban teman gue, mereka seolah-olah menganggap yang namanya waktu libur itu harus mahal, jauh, lama .. jadi alesannya mereka belum bisa relax adalah karena mereka belon abisa ambil cuti karena duit buat jalan-jalan belon terkumpul dan lain lain.. wahhh kesian amat kalau happynessnya bersyarat gini…

Kadang orang lupa kalau apa yang dia bisa lakukan 2-3 menit sehari bisa memberikan kesenangan dan kepuasan. Kadang orang lupa kalau yang kita sudah lalukan sehari2x pun bisa mengalihkan kita dari stress yang berlebihan.. masalahnya bisa dan mau nggak kita ngeliatnya..???

Kalau gue lagi BETE dari jaman kecil, gue suka banget nyanyi lagu “Favorite things” nya yang dari film The Sound of Music. Film ini adalah “pacifier” gue waktu jaman TK dan SD, gue kayaknya HARUS nonton ini sepulang sekolah sebelum bikin PR , mandi, main, ngaji dll.. sampe2x semua lagu dan dialognya apal , hehehhe lagu ini gue senandungkan mulai dari kalo nervous kecil misalnya mau manggung sampe kalo gue sedih dihianatin pacar.. kebayang dong bow, gue sambil ngangis, tiduran nyanyi lagu gini .. apa sehhhhh, hehehhe.. biasalah kalo lagi lebay wahahahhah

Jadi gitu lah intinya, coba deh bikin list hal-hal simple yang kalo kita lakuin sebenernya kalo dinikmatin rasanya gimanaaa gitu… nah next time under stress, resort deh tuh ke list itu..  Kalo simple pleasure gue itu minum teh earl grey anget pake susu dan gula, minum es teh manis  earl grey, masak, nggunting kuku, berendem di bath tub, meluk Jason, megang tangan jason, main games di nintendo DS, PS 3 atau computer games, minum susu ultra rasa moka, masak, ngelukis, main sama ponakan gue, nonton film, piknik, liat-liat foto album, liat-liat buku menu, nyanyi ngikutin lagu pas nyupir sendirian, baca majalah, baca koran, berenang, hiking, main anggar, panahan, sex, makan rujak, pempek, asinan.. mm apa lagi yah.. sebenernya mungkin masih banyak, Cuma gak kepikiran aja.. pokoknya idenya adalah, bikin list sebanyak-banyaknya.. nanti pas stress coba lakuin itu, kalo gak berhasil coba yang lain… ini yang namanya coping skill.. dan tanpa coping skill yang bagus, orang akan cenderung prone kena stress yang berlebihan dan orang yang sering stress pasti kesehatan fisik dan mentalnya jadi nggak asik lagi…

Makanya Ayo nyanyiiii!!!!

Sky full of stars, rain drop on roses

Whiskers on kittens

Bright copper kettles and warm woolen mittens

Brown paper packeges tied up with strings

These are a few of my favorite things

 

Cream colored ponies and crisp apple streudels
Doorbells and sleigh bells and schnitzel with noodles
Wild geese that fly with the moon on their wings
These are a few of my favorite things


Girls in white dresses with blue satin sashes

Snow flake that stay on my nose and eye lashes

Silver white winter that melts into spring

These are a few of my favorite things


When the dog bites

When the bee stings

When I’m feeling sad

I simply remember my favorite things and then I don’t feel so bad


Blog EntryLe Mariage Q & A : Tedious Sex LifeMay 11, '08 2:04 PM
for everyone

Dear Lia,
Hubunganku dengan suami akhir-akhir ini rasanya mulai hambar. Jarang ada saat romantis, dan nggak ada sparks lagi. Nggak ada kejutan, seks spontan ataupun quicky lagi, pokoknya sudah beda sekali. Apakah ini disebabkan pekerjaan kami berdua? Saya menikah dengan WNA dan tinggal di negara suami, maka kami harus bekerja untuk mensupport keluarga dengan jadwal kerja berlawanan, dengan pertimbangan tidak mau menaruh anak di tempat penitipan. Ketika suami pergi kerja saya masih tidur, dan ketika dia pulang saya harus berangkat kerja. Waktu kami mencoba bermesraan hanya Sabtu, itu pun biasa saja. Pernah suatu kali saya membangunkan dia untuk berhubungan, tetapi dia menolak dan bilang, “Yang bener aja, what’s wrong with you?” Rasanya sakit sekali ditolak begitu. Saya jadi malas berinisiatif lagi. Bagaimana membuat perkawinan kami menjadi lebih menyenangkan dan chemistry-nya nyambung lagi? Kami baru bersama sekitar 4,5 tahun tapi kalau sedang membosankan begini seperti orang yang sudah menikah 15 tahunan deh. Kami berbeda 12 tahun, dia akan menginjak usia 40 tahun. Saya kan masih muda, dan masih memiliki keinginan yang tinggi, tapi saya takut ditolak lagi. Please, apa yang harus saya lakukan?  

Thanks
Della, UK

Hi Della,
Yang pertama harus disadari adalah masalah prioritas keluarga dan konsekuensinya karena semua berawal dari sana. Kedua adalah rasa embarrassed karena pernah ditolak, dan bagaimana cara mengembalikan greget-nya ini. Dengan menghindari daycare anda berdua memilih kerja yang jamnya berlawanan. Sayangnya yang jadi “korban” adalah hubungan pribadi kalian. Jika keputusan yang diambil as a couple atau pribadi punya efek samping yang tidak bagus, biasanya itu bukanlah keputusan terbaik. Komunikasikan, teliti, dan evaluasi lagi tentang keputusan kalian mengenai daycare ini, serta efeknya ke kehidupan pribadi kalian. Katakan kalau Della “miss having normal hours.” Sebagai konsekuensi tentunya kalian harus keluar uang untuk daycare. Cari tahu tentang policy mengenai daycare dari kantor suami, karena beberapa kantor memberikan fasilitas pengasuhan anak gratis. Menitipkan anak di daycare juga banyak manfaatnya, seperti anak belajar bersosialisasi.  Selama waktu kalian bersama memiliki kualitas yang baik, anak tidak akan jadi jauh dengan orang tuanya hanya karena dititipkan.

Yang kedua adalah masalah initiating sex. Terkadang  perempuan yang dibesarkan di keluarga yang menganut nilai tradisional secara langsung dan tidak langsung diajarkan bahwa perempuan 'baik-baik' adalah perempuan yang ada di-receiving end, terutama soal seks. Jadi terkadang, kalau aktif memulai terlebih dahulu kita jadi gusar sendiri. Apa lagi setelah memulai lalu di tolak. Apa yang diajarkan sedari kecil semakin menancap bahwa perempuan baik-baik memang tidak sepantasnya "meminta". Ini lah yang membuat rasa malu, seolah-olah kita sudah jadi anak nakal yang terkena akibat perbuatannya. Rasa malu ini tidak mengenakkan, yang mengaktifkan sistem mekanisme pertahanan diri dan membuat kita berpikir, "Ih, emang gue cewek apaan minta-minta gitu?" Pikiran inilah yang mencegah Della untuk menginisiatifkannya lagi.  Untuk masalah ini yang mungkin perlu  diubah adalah attitude menyoal seks. Caranya? Della harus bicara lebih lanjut dengan orang yang profesional, misalnya seks therapist atau marriage and family therapist. Kalo attitude-nya berubah, biasanya komentar begitu tidak dimasukin ke hati. Tak perlu malu, untuk masalah seks ada banyak gunanya kalau orang tidak mudah tersinggung.

seks memang bukan bagian yang terpenting dalam kehidupan perkawinan. Jadi penting karena seseorang bisa mengkespresikan perasaan nyamannya berada di dekat pasangannya. Hal ini disebabkan oleh keluarnya hormon Oxytocin setelah keduanya mengalami orgasme. Hormon ini berguna “melekatkan” pasangan agar mereka bisa tetap dekat ketika meneruskan keturunan. Ada fungsi biologisnya kalau dilihat dari sudut pandang evolusi. Kalau ada masalah lain dalam komunikasi atau intimacy, biasanya seks ini yang seolah-olah terganggu terlebih dahulu.  Tingkat sexual bliss tidak akan konstan dalam kehidupan perkawinan kita. Sangat tidak realistis bila menuntut hal ini akan sama terus, karena akan menambah rasa kecewa anda. Apabila sekarang ada penurunan,  itu wajar mengingat waktu yang berbeda, stres dan komunikasi yang kurang lancar. Jadi ajak suami bicara, tanya apa perasaannya, harapannya, dan bicarakan bagaimana kalian bisa bekerja sama untuk mewujudkan keinginan. Karena tidak biasa bicara soal seks, anda berdua memang harus mempersiapkan diri untuk saling terbuka dan mau mendengarkan, serta meninggalkan sifat defensif. Ketika komunikasinya lancar, biasanya seksnya akan balik sendiri. Lalu, mulailah bereksperimen lagi dengan waktu dan gaya baru. Dan jangan lupa “just have fun with it…”


Blog EntryLe Mariage Q & A: DOES JEALOUSY MEANS LOVE?Apr 19, '08 10:03 AM
for everyone

Dear Lia,

Saya karyawati di perusahaan minyak lokal (36). Orang tua saya sudah sering mendorong saya dan pacar untuk menikah. Kami sudah bersama lebih dari setahun. Terus terang saya memang ingin menikah, tetapi saya merasa ada yang kurang “sreg” mengenai pacar saya ini. Dia sangatlah pencemburu. Jam makan siang dia selalu menelepon dan bertanya saya makan siang di mana dan dengan siapa. Dia selalu memaksa menjemput saya dari kantor, walaupun kadang ini membuat saya harus menunggunya 2-3 jam. Dia selalu bertanya secara mendetail tentang hari saya. Apabila saya tidak mengangkat telepon, misalnya sedang dalam rapat, dia bisa menelepon lebih dari 10 kali sampai saya akhirnya mengangkat teleponnya itu. Hasilnya saya harus membuat alasan bahwa hal tersebut adalah darurat keluarga. Awalnya bos saya mengerti tapi saya mulai ditegur karena hal tersebut. Ketika akhirnya teleponnya saya angkatpun biasanya pacar sangat marah pada saya dan menuduh macam-macam, malah terkadang sampai memaki saya dengan sebutan yang tidak pantas. Apabila saya diam, dia bilang tandanya saya mengaku bersalah, tapi kalau saya balik marah, dia tambah marah karena katanya tidak mungkin saya marah kalau tidak bersalah. Masalahnya ketika saya jelaskan hal ini pada orang tua dan teman, mereka malah bilang saya harus bersyukur karena itu tandanya pacar cinta sama saya. Benarkah? Karena situasi ini tidak menyenangkan buat saya. 

Tania – Jakarta

Dear Tania,

Ketidak-sreg-an anda terhadap pacar sangatlah beralasan. Setidaknya dari surat anda itu saya dapat membayangkan betapa anda merasa terjepit dan serba salah di berbagai situasi, dan bagaimana hubungan pribadi ini mulai mengganggu anda di bidang pekerjaan, pribadi dan keluarga. Sayangnya keluarga dan teman-teman pun seperti tidak “mendengar” dan mengerti mengenai esensi keluhan anda perihal perilaku pacar. Reaksi mereka yang menyetarakan antara cemburu sama dengan cinta dan cemburu yang merupakan salah satu ciri cinta membuat anda malah mempertanyakan diri anda sendiri seolah-olah anda lah pihak yang kurang mensyukuri.

Dalam masyarakat, banyak nilai-nilai mengenai hubungan yang sebenarnya belum tentu benar tapi sayangnya dipercayai sebagai suatu kebenaran. Cemburu sebenarnya adalah perasaan yang wajar dan manusiawi dan timbul apabila “perasaan aman” kita terusik oleh kehadiran pihak lain yang mungkin kita anggap memiliki kelebihan sehingga menimbulkan perasaan insecure (minder). Rasa cemburu juga timbul apabila sesuatu yang kita miliki (atau rasanya kita miliki) menunjukkan indikasi bahwa ia tidak akan jadi milik kita lagi. Jadi rasa cemburu itu lebih kepada mekanisme “warning” supaya kita memproteksi “milik” kita. Kalau mau disejajarkan, cemburu ini lebih cocok sebagai indikasi “rasa kepemilikan yang kuat” atau “posessiveness” bukannya cinta.  Ada sebagian orang malah senang dicemburui karena itu membuat mereka merasa berharga dan seolah-olah menunjukkan bahwa pasangan sangat menginginkan dirinya. Orang yang cemburuan sebenarnya meragukan cinta dan komitmen pasangannya. Kalau pasangan kita tidak mau kita berhubungan dengan orang lain selain dia, maka masalah terbesar dalam hubungan anda adalah kepercayaan.

Sekarang pertanyaannya, apa sih yang sebenarnya membuat pacar Tania merasa terancam sehingga harus menunjukkan proteksi ini? Apakah dulu pernah ada sejarah ketidaksetiaan atau kebohongan yang ahkirnya terbongkar? Kalau ada, memang wajar rasa was-was itu muncul. Tetapi tidak memberikan ruang gerak dan selalu mengontrol seperti yang pacar Tania lakukan itu sudah berlebihan. Rasa percaya tidak dapat dibangun dengan cara seperti itu.

Kalau ternyata kejadian seperti itu tidak pernah ada, berarti rasa tidak aman ini tentunya lebih kepada internal pribadi pasangan anda. Apapun penyebabnya (mungkin dia pernah disakiti pacar terdahulu) ini mengakibatkan hubungan kalian menjadi tidak sehat. Hubungan yang sehat paling tidak memiliki ciri-ciri seperti ini:

  • Ada rasa saling menghargai/ memperlakukan pasangan dengan penuh respek
  • Ada perasaan aman dan nyaman
  • Tidak ada tindakan kekerasan, baik perkataan, tekanan emosi dan kekerasan fisik di antara keduanya
  • Dapat menyelesaikan konflik secara memuaskan
  • Dapat menikmati waktu yang dihabiskan bersama
  • Saling mendukung
  • Berminat untuk mengetahui kehidupan pasangannya, misalnya keluarganya, kesehatannya, pekerjaannya, yang bukan didorong oleh rasa ingin menyelidiki tetapi karena kita “care”.
  • Ada privacy di dalam hubungan itu, misalnya dengan tidak mengecek barang-barang pribadi seperti dompet, telepon, email, pager. Privacy bukan berarti Secrecy.
  • Dapat menghargai satu sama lain.
  • Kalaupun nantinya aktif melakukan hubungan seksual itu karena pilihan bukan karena paksaan atau tekanan.
  • Berkomunikasi secara jelas dan terbuka
  • Saling mendorong terbentuknya pertemanan di luar hubungan pacaran
  • Jujur mengenai sejarah aktifitas seksual masa lalu dan masa kininya supaya pasangan dapat mengerti resiko-resiko apa yang ia hadapi dan dapat mengambil keputusan terbaik.

Blog EntryLe Mariage Q&A: A sexually active maleApr 1, '08 3:42 PM
for everyone

Dear Pengasuh Rubrik,

Saya seorang pria (26) dan telah bertunangan dengan seorang gadis (24). Kami sudah setahun berpacaran, dan dipertemukan lewat seorang teman. Untuk pacar, saya adalah pacar “seriusnya” yang pertama, sementara dia adalah pacar serius saya yang ke sekian. Dia baru saja lulus kuliah tahun lalu dan sudah bekerja, jadi dia ingin saya bicara dengan orang tuanya untuk secepatnya dinikahkan. Saya sih oke saja, karena selama “jalan bareng” gak ada masalah. Keluarga kami juga dari suku dan agama sama, pendidikan kami pun tingkatnya sama. Masalahnya, saya sudah pernah melakukan hubungan seksual dengan pacar-pacar terdahulu, tapi tidak dengan yang sekarang.  Memang saya ingin berhenti dan tidak mau melakukan hubungan lagi sampai dengan saya menikah nanti. Terus terang saya tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Apakah saya harus memberitahu pacar mengenai hal ini? Saya tidak tahu bagaimana reaksinya apabila saya bicara jujur dan saya takut saya akan menyakiti dia. Please ya mbak, saya bingung.

Riko, Bandung

Halo Riko yang sedang bingung.

Kejujuran adalah modal dasar suatu hubungan.  Jujur itu termasuk jujur pada diri sendiri dan pada pasangan. Termasuk jujur  mengenai sejarah aktifitas seksual kita. Terkadang orang menganggap “what you don’t know won’t hurt you”. Persepsi umum itu sebenarnya muncul karena kita tidak mau ego kita terluka, jadi hanya semacam mekanisme pertahanan saja. Jadi banyak orang sebenarnya memilih untuk tidak tahu dan tidak mau tahu karena menurut mereka hal tersebut lebih “aman” dan “nyaman”. Untuk masalah kesehatan, sayangnya hal itu sangat tidak dianjurkan. Hal–hal yang kita tidak tahu justru akan membahayakan, bukan hanya diri kita tetapi juga orang lain. 

Semenjak aktif secara seksual, apakah anda sudah pernah memeriksakan diri ke dokter? Setiap kali seseorang  membuka diri untuk aktif secara seksual, dia akan dihadapkan paling tidak pada salah satu atau kombinasi dari ketiga resiko; menjadi hamil (atau menghamili), terkena penyakit hubungan seksual, atau resiko untuk bertahan dengan orang yang tidak tepat untuk kita hanya karena sudah berhubungan seksual. Masalahnya tanda-tanda terjangkitnya seseorang berbeda-beda. Misalnya pada orang yang satu, ketika dia terkena HPV (Human Paplioma Virus) di kelaminnya akan terlihat bejolan-benjolan kecil semacam kutil, tetapi pada orang lain tanda tersebut tidak terlihat, meski bukan berarti ia bebas dari penyakit. Pada wanita, beberapa strain (jenis) virus ini bisa mengakibatkan kanker mulut rahim (cervical cancer) yang akibatnya tidak hanya kemandulan tapi juga kematian. Maka sangat berbahaya jika kita tidak mengetahui apakah ada penyakit-penyakit yang kita tularkan pada pasangan. Saran saya, jika belum pernah pergi ke dokter, untuk segera memeriksakan diri. Prosesnya tidak lama, dan dokter akan mengirimkan sampel yang didapat dari tubuh anda ke laboratorium untuk diteliti. Apapun hasilnya, anda wajib memberitahukan pada pasangan, apa lagi anda kelihatannya peduli pada pasangan.

Kalau anda khawatir bahwa pacar akan merasa sakit hati, ini sebenarnya adalah resiko setiap orang ketika ia mau melibatkan diri di suatu hubungan. Resiko untuk kecewa dan sakit itu selalu ada. Setiap kali kita memilih sesuatu, pasti ada konsekuensinya. Yang anda belum tahu, apakah setelah itu pacar akan meninggalkan anda atau tidak. Kalau iya, pastinya tidak akan mudah, tapi mungkin haI ini bisa dijadikan pelajaran untuk hubungan berikutnya. Perginya pacar pun mungkin karena berbagai hal, bisa karena dia “takut tertular”, mungkin karena merasa dibohongi, atau karena merasa bahwa nilai-nilai yang kalian anut ternyata berbeda, atau mungkin dia tersinggung karena anda mau berhubungan dengan yang lain tapi tidak dengan dia. Kalau pasangan tetap berada di sisi anda, pastinya karena dia menghargai kejujuran, mempertimbangkan dan kemudian memutuskan untuk menerima anda apa adanya. Jadi sikapnya itu harus dihargai dengan cara melindungi dia dengan mengajak melakukan pemeriksaan kesehatan kalian berdua secara teratur. 

Kesamaan agama, suku dan pendidikan sebenarnya hanya penyumbang kecil saja dalam kualitas dan langgengnya hubungan. Yang lebih penting adalah persamaan nilai dan tujuan hidup, sikap saling menghargai dan percaya, serta komunikasi dan kemampuan pasangan tersebut untuk menyelesaikan konfliknya secara sehat. Jadi kalau alasan anda dan pasangan menikah hanya karena selama ini “fine-fine” saja dan hanya karena kesamaan latar belakang, mungkin ada baiknya mulai membicarakan hal-hal serius dalam pernikahan, seperti cita-cita sebagai individu, akan menjadi orang tua seperti apa kelak, pendidikan atau karakter bagaimana yang ingin diterapkan untuk anak, bagaimana mensuport keluarga, harapan dan ketakutan mengenai pernikahan, bagaiman menjaga keseimbangan kedekatan sebagai pasangan dan kedekatan dengan keluarga dan teman. Lalu mengenai kehidupan seksual, ini mencakup pengalaman dan harapan ke depan,  juga jangan lupa bicarakan secara jujur, apa kekuatan dan kelemahan kalian sebagai pasangan.

Berbicara terbuka mengenai hal ini akan menaikkan kualitas pacaran, dan menjadikan pertemuan sehari-hari tidak hanya “yayang-yayangan” saja, tapi juga saling mendalami karakter dan pribadi. Kaji juga secara serius persamaan dan perbedaan di antara kalian, dan bagaimana hal itu dapat menambah kuat hubungan. Kalau merasa terlalu “ribet” dengan banyaknya hal yang harus dibicarakan, atau butuh pihak ketiga yang dirasa bisa netral dan objektif, memang sebaiknya hubungi psikolog yang mendalami khusus masalah perkawinan dan keluarga. Good luck ya..


Arisan Mampir “Mengatasi Kejenuhan Dalam Perkawinan”
January 2, 2008


Kehebohan Arisan FeMale dibawa ke arisan yang diselenggarakan oleh kelompok arisan Madania. Kelompok arisan Madania menyelenggarakan arisan di Bondies Café & Lounge, Jl. Ampera Raya 135, Jakarta. 99.5 FeMale Radio Jakarta pun hadir ikut memeriahkan acara kelompok arisan Madania itu.

99.5 FeMale Radio Jakarta memeriahkan arisan kelompok Madania dengan hadir bersama Ajie Pangestu dan Lia Sutrisno. Tema ”Mengatasi Kejenuhan dalam Perkawinan” menjadi perbincangan hangat dalam Arisan Mampir yang diselenggarakan Jumat, 30 November 2007 lalu. Baik Ajie Pangestu dan jeng-jeng kelompok arisan Madania pun berbagi pengalaman mereka bagaimana mengatasi kejenuhan dalam perkawinan. Dan Lia Sutrisno, seorang married consultant memberikan wawasan bagaimana mengatasi kejenuhan dalam perkawinan di Arisan Mampir yang dipandu oleh Gery Puraatmadja.

Arisan Mampir ini terselenggara untuk lebih mendekatkan 99.5 FeMale Radio Jakarta dengan pendengarnya. Lebih dekat dengan hadir memeriahkan acara yang diselenggarakan kelompok-kelompok arisan.

Kalau ingin arisan Sahabat FeMale semakin meriah dengan kehadiran tim 99.5 FeMale Radio Jakarta, daftarkan saja kelompok arisan Sahabat FeMale melalui SMS. Ketik : Nama(spasi)Umur(spasi)Nama Kelompok(spasi)Daerah Rumah(spasi)Tanggal Arisan. Kirim SMS itu ke 9123. Misalnya: IRA 28 ARISAN CANTIKPONDOK INDAH 13 OKTOBER. Atau dengan menghubungi Diana di (021) 722 3522


Dear All,

Saya sedang menulis buku mengenai intercultural relationship orang indonesia dari sudut pandang psikologi dan terapi keluarga. Buku ini akan berisi bahasan2x mengenai faktor2x yang penting di dalam perkawinan yang sehat dan issue –issue khusus yang dialami perkawinan antar budaya / negara. Yang tentunya akan dikemas secara santai, walaupun isinya akan mengangkat juga hasil2x penelitian yanga da selama ini..  ..  

Tujuan buku ini supaya orang2 x yang berada di dalam perkawinan semacam ini ataupun orang orang yang akan menikah bisa mendapatkan informasi yang kemungkinan belum mereka pikirkan atu pertimbangkan. Untuk itu saya perlu sebanyak2xnya share pengalaman dari teman2x . Apabila berniat membantu, tolong email saya di natalia.indrasari@gmail.com dan saya akan kirimkan daftar pertanyaan yang harus diisi dalam waktu 1 bulan ke depan. Setelah itu akan ada pertanyaan lanjutan. Saya mengerti bahwa proses ini akan memakan banyak waktu teman2x sekalian, maka dari itu saya sangat menghargai bantuannya.

Jadi,

1.       Berapapun usia perkawinan anda

2.       Dimanapun anda tinggal

3.       Apapun profesi anda

4.       Berapapun jumlah anak

Apabila anda bertunangan, menikah atau pernah menikah dengan orang asing ditunggu partisipasinya.. karena ini dari kita untuk kita..

 

 

Trerima kasih,

Natalia indrasari


Blog EntryRecipe for a Happy MarriageFeb 25, '08 2:16 AM
for everyone

 

"Resep" ini gue kumpulin dari berbagai sumber, dan gue adjust berdasarkan selera.. Ceritanya waktu kawinan gue di Des Moines, Tulisan ini gue print dan dijadikan salah satu suvenir untuk tamu yang dateng.. Ya gini lah kalo suami istri doyan masak hehehhehe. Selamat mencoba..

Ingredients:

Tools needed:

2 cupfuls of love

2 large cup of pre-packaged respect

1 gallon of faith and trust in each other

3 cupfuls of loyalty

1 package of understanding

1 cup of consideration

1 pint of encouragement

1 cup of friendship

A generous dash of cooperation

Unlimited laughter

A little surprise

Devotion

 

1 clean container made of good intention

1 large cup of kindness to mix the dough

1 large cup or several small cups of hobbies soaked in 1 package of willingness to spend time, to cover the dough

1 extra-large cup of assertive communication for baking

Patience

Touching

Forgiveness for cleaning purposes

Passion for heating purposes

 

 

Methods:

Mix friendship with respect, using communication, in a clean container of good intention. Add consideration to the mixture.

Cover with one or several hobbies (depends on availability and interest) that were soaked with willingness to spend time and let it sit in a warm and comfortable environment until the mix doubles in size.  Take care not to rush the dough to bloom. Be patient.

Take love and loyalty and mix thoroughly with trust. Blend the mixture with kindness to get understanding. Add the friendship dough and add a little surprise, then stir well.

Fold in devotion, alternating with an abundance of laughter.

Remove any specks of jealousy, temper or criticism that surfaces using forgiveness. Sweeten well with generous portions of encouragement and flattery. Touch frequently throughout the process.

Bake the dough with communication and remember to monitor the temperature at all times.  Be patient while the dough is cooking.

Decorate generously with cooperation. Serve daily with generous helpings.

Serving Suggestion: Best serve warm using a steady flame of passion. Never serve with cold shoulder or hot tongue. Enjoy!


Hai semua..Nyambung berita yang lalu kalau saya akan mengasuh rubrik tanya jawab di majalah Le Mariage, Mau pengumuman, sekarang Majalah Le Mariagenya sdh terbit dan kolom konsultasinya sdh ada. Silahkan ke website mereka di http://www.mylemariage.com/index.php .. disana bisa dilihat daftar pick up pointnya di seputar jakarta, surabaya, bandung, bali, Singapore, Salatiga, Banten dan Solo (sekarang masih gratis) atau bisa juga download edisi tersebut dari website mereka. Tolong kirimkan pertanyaan seputar relationship misalnya masa pacaran, persiapan pernikahan dan even masalah perkawinan ke metha@mediakreasi.com dengan judul marital counseling. Makasih atas dukungannya....

ini Q&Anya:

Dear Lia,

Saya baru bertunangan selama 3 bulan dan akan menikah tahun depan setelah kami lulus kuliah. Kami sudah berpacaran selama 2 tahun.  Selama kami berpacaran, kami tidak pernah “berantem besar”. Tunangan saya orangnya baik, penyabar , pendiam dan suka mengalah. Kedua keluarga pun saling merestui. Masalahnya, minggu lalu kakak perempuan saya baru memberitahukan pada keluarga kami kalau ia akan bercerai (ia sudah menikah selama 5 tahun dengan 2 orang anak). Anehnya, semenjak saat itu saya sering terpikir bagaimana perkawinan kami nanti. Saya takut kalau saya pun nanti akan bercerai. Yang saya takutkan adalah, kakak saya yang telah berpacaran selama 8 tahun sebelum menikah saja bercerai, bagaimana saya yang  “baru” pacaran 2 tahun? Tunangan saya tidak tahu mengenai kekhawatiran saya ini.  (Aya, Jakarta)

Jawaban:

Dear Aya,

Pertama-tama selamat atas pertunangannya, ya... Dari surat kamu ada beberapa hal menarik yang bisa kita perhatikan dan bahas sedikit. Yang pertama adalah pertanyaan tentang “Seberapa lama sih seseorang harus pacaran supaya perkawinannya sukses?” . Yang kedua , adalah kenapa timbul rasa takut di diri kamu sekarang, dan mungkin mau diapakan rasa takut ini. Dan yang ke tiga mungkin kamu mulai mempertanyakan gimana kamu dan tunangan kamu ke depannya, apakah perkawinan kamu akan selamanya ataukah akan kandas di tengah jalan seperti yang di alami kakakmu. Kita bahas satu per satu ya…

Soal lama pacaran, sebenarnya panjang pendeknya masa pacaran bukanlah hal yang menjamin sukses tidaknya perkawinan. Kesuksesan perkawinan itu sendiri di ukur oleh 2 hal. Yang satu namanya stabilitas perkawinan , maksudnya apakah pasangan itu berpisah/ bercerai atau tidak. Ukuran yang kedua namanya kepuasan perkawinan. Karena banyak orang yang tetap menikah tapi salah satu atau keduanya tidak mengalami kepuasan/ kebahagiaan di dalam perkawinannya ini. Nah, tentunya aya tidak hanya ingin tidak bercerai, kan? Nah perkawinan yang memiki kepuasan tinggi itu memiliki ciri-ciri tertentu, beberapa yang penting misalnya komunikasinya lancar dan sehat, cara menyelesaikan konfliknya juga sehat.  Ciri-ciri selanjutnya saling menghargai (respect) dan saling percaya dan dapat di percaya (trust and trustworthyness). Pasangan yang memiliki kepuasan perkawinan tinggi juga memiliki pengetahuan yang banyak mengenai pasangannya lewat perhatian dan keterbukaan.  Jadi yang penting adalah kualitas hubungan selama pacaran bukan durasinya. Selama Aya dan pasangan memiki ciri-ciri tersebut di atas,  rasanya tidak perlu khawatir. .  

Rasa ragu-ragu atau bahkan takut sebelum pernikahan itu sangat wajar, karena kita akan berkomitmen untuk bersama orang yang sama seumur hidup kita. Rasa takut yang dialami Aya pun wajar karena ada kejadian yang dialami oleh kakak Aya baru-baru saja. Tapi, kapankah kita tahu bahwa perasaan itu hanya kekhawatiran saja ataukah rasa takut itu benar-benar merupakan “warning”?  Tentunya orang yang paling tahu tentang hubungan kalian adalah kalian berdua. Selama ini apakah ada hal2x yang bisa di jadikan petunjuk bahwa hubungan kalian tidak sehat? Ada 3 cara mengatasi kekuatiran kamu. Yang pertama: Buka mata dan telinga dengarkan dan perhatikan dengan lapang dada komentar-komentar atau sikap-sikap teman2x dan saudara2xmu terhadap tunanganmu. Perhatikan bagaimana sikap dia dalam menghadapi orang yang ada dibawahnya, sejajar dengannya, dan yang ada di atasnya. Perilaku tunanganmu dapat menunjukkan bagaiman karakter nya. Kedua, cobalah berdialog dengan kakak, tanyakan apa yang menjadi pelajaran baginya mengenai hubungannya yang lalu, mungkin kamu bisa mendapatkan beberapa pelajaran juga. Ketiga kalau masih ragu juga, ajaklah tunangan kamu ke ahli yang memang mendalami masalah keluarga dan perkawinan untuk menjalani konseling pranikah, atau konseling setelah menikah. Gunanya adalah untuk memperdalam pengertian diantara kalian berdua, supaya kalian lebih jelas mengenai harapan2x dan ketakutan2x masing-masing pihak akan perkawinan dan juga untuk belajar komunikasi dan menyelesaikan konflik yang lebih sehat. Pencegahan tentunya lebih baik dari mengobati , kan? Apa lagi kalian berdua saling mencintai, Best wishes to you both… 

 


EventRadio Talk Show on Issues before MarriageFeb 11, '08 6:32 AM
for everyone
Start:     Feb 12, '08 08:30a
Location:     Radio Female Jakarta 99.5
Ngomongin ttg perasaan, ketakutan, ilusi2x dan kenyataan yang orang harus pikirin seputar masa sebelum perkawinan..

Photo AlbumFoto Formal (41 photos)Jan 31, '08 12:44 AM
for everyone

Ceritanya kan gue itu gak pernah punya foto profesional kecuali foto keluarga dan foto kawinan.. sementara sekarang dengan kerjaan gue, gue harus bikin brosur praktek, buat di majalah Le Mariage dan juga company profile jadi deh gue harus cari2x tukang foto yang bisa mengcapture esensi lia itu gimana sih gitu .. ternyata KD inget pak Barie, pak Barie ini adalah juru foto Tabloid Wanita Indonesia.. kita dah beberapa kali ketemu waktu gue pergi ma KD .. Jadi gue kontak Pak Barie untuk ngebantu gue dengan task gue yang satu ini.. dan untungnya Pak barie oke... Walhasil gue juga musti cari juru make up dan rambut yang juga ngerti karakter muka gue doongg, dan gue inget mas Rudy dari Kiky Salon yag waktu itu pernah ngedandanin gue buat pemotretan Harpers bazaar edisi lebaran, kebetulan juga dia available di tanggal yang gue mau.. Nggak mungkin dong bow, gue dengan penampilan sehari2x fotonya ditaro di brosur, ntar orang ngirain gue kliennya hehehe, jadi usaha banget nii untuk keliatan beradab... tapi gak tau yaa.. pendapat orang kan beda2x.. heheh
terus orang kantor kena juga jadio model mendadak. Mas Firman, Office Boy kita dan Mbak Ita, sekretarisnya Anang pun jadi korban gue untuk memerankan klien yang lagi gue counsil.. supaya keliatan alami jadi deh kita ngobrol2x yang ada pada curhat beneran bowww.. asli kocaaakkk.... hehehehehe
Jadilah ini hasilnya... Kalo temen2x mau pada bantuin, please vote foto mana yang gue harus taro di brosur praktek pribadi gue, foto mana yang buat le mariage dan foto mana yang buat ditaro di website FemPower untuk company profile.. Berhubung gue yang punya tampang, gue sih gak bisa bedain huahauahauhauaaa...

EventIntercultural Relationship Radio TalkshowJan 21, '08 11:49 PM
for everyone
Start:     Jan 25, '08 11:00a
End:     Jan 25, '08 12:00p
Location:     Cosmopolitan Radio- Jakarta
The what, when, why, where and hows of Intercultural Relationship
atas informasi dari Sitha.. radio ini bisa didengarkan lewat internet

Silakan ke sini buat yang mau denger Cosmo dan beberapa radio lain. Tp ingat perbedaan waktunya yaa...
http://www.surfmusic.de/country/indonesia.html

thanks tha!!

Blog Entry7 Ways To Ruin Your MarriageSep 4, '07 2:38 PM
for everyone

I found this really interesting article.. Eventhough it is not based on scientific research, nevertheless the writer showed a very good observation skill!! If we want to be really honest about ourselves, we often do at least one of these things consciously or unconsciously in our marriqage/ or other relationships...

Now that we made "the unconscious" more "conscious" how much power do you think we have to avoid these things?

Are you happily married? Would you like to be happily married? Are you looking for ways to have a happy marriage? Take a look at 7 ways to ruin a marriage below. These can be equally applied to both husbands and wives. If you avoid these 7 things – you’ll be a step closer to a happy marriage.

7) Hold things in – don’t communicate with your spouse about “issues” in your marriage. Wait until that tiny problem has grown into a big problem – then start a fight about it.

6) Spend more time with your friends than with your spouse. If your friend wants to do something fun – leave your spouse at home – he/she probably wouldn’t enjoy the outing anyway.

5) Since you might not want to have sex when your spouse does – make sure you get your way. Don’t let him/her have the pleasure of sexual fulfillment in your marriage. After all, you’re tired, you’ve been working all day, you should only have sex when you want it, right? And never do anything sexual that you don’t want to do – regardless of how much it means to your spouse – it’s all about you, right?

4) When you have a disagreement with your spouse – don’t attack the problem – focus the blame directly on your spouse. Bring up everything you can think of to back up your point. Think back years and years – use little instances in the past to further prove to your spouse that you’re right. After all, since you’re right about this disagreement – you should win the argument.

3) Make sure you stay in touch with your old boyfriends and girlfriends – after all, they’re just friends. While you’re at it – make new friends with the opposite sex – these relationships are healthy – you need to have a lot of friendships with members of the opposite sex in order to have a healthy marriage. And be sure to talk about these "friends" to your spouse as much as possible.

2) Be as negative as you can around your spouse. After all, you’ve had a hard day, you’ve been done wrong, you don’t feel well – make sure you’re spouse knows you’re in a bad mood and take it out on he/she. It’s your right isn’t it?

1) Be disrespectful toward your spouse every chance you get. Put he/she down in front of others. Never give your spouse a compliment and never say encouraging things to one another. Be sure to treat your spouse as if you’re a superior being – after all, you probably are, right?


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help