natalia's posts with tag: couples
| Start: | Jul 17, '08 7:00p | | End: | Jul 17, '08 8:00p | | Location: | Radio Otomotion Jakarta 97.5FM |
So what's sexy? Cars and sex... Dalam rangka Indonesia International Motor Show ke 16 tahun 2008, radio otomotion akan melakukan live broadcast dari JCC so, karena temanya adalah mobil... jadi yang asik ya ngomongin hubungan antara sex dan mobil.. termasuk mungkin posisi yang asik di mobil hehehhehehe
| Start: | Jul 3, '08 6:00p | | End: | Jul 3, '08 7:00p | | Location: | Otomotion Radio Jakarta 97.5 FM |
Weekly Talkshow on Sex and Relationships. Part of Bumper to Bumper Show Hosted by Farhan and Roberto. Tune in Ya!!!!
Dear Lia, Saya dan tunangan saya akan menikah 2 bulan lagi. Kami datang dari latar belakang adat dan kebiasaan yang berbeda hingga kominukasi antara kedua keluarga tidak mudah. Hal ini terus terang membuat saya dan tunangan saya jadi lebih emosional, terutama mendekati hari “H”. Bagaimana saya dan tunangan saya harus bersikap? Anonymous, Jakarta Dear Anonymous, Sebenarnya perbedaan adat dan kebiasaan tidak harus menjadi penghalang suatu hubungan yang sehat, bahagia dan menyenangkan asalkan kedua keluarga bisa selalu aware dan secara sadar tidak menstereotypekan keluarga lainnya. Stereotype adalah usaha manusia untuk mengerti manusia lain dengan melabel dan memasukkan orang-orang ke dalam suatu golongan/ kelompok yang dipercaya memiliki sifat-sifat tertentu yang belum tentu terbukti kebenarannya. Perlakukanlah masing-masing anggota keluarga sebagai individu dan cobalah untuk mengerti sudut pandangnya dan dengarkan apa yang sebenarnya ia kuatirkan, dengan demikian rasa “defensif” dan tegang akan menurun. Anda berdua sudah menjalin hubungan walaupun berasal dari keluarga yang berbeda, tentunya ada kecocokan (compatibility). Gunakan fakta ini untuk memberi “contoh” pada keluarga masing-masing bagaimana anda berdua saling menghargai satu sama lain. Peran anda berdua adalah sebagai duta besar dalam dalam menghadapi keluarga masing-masing, penterjemah dalam menerangkan maksud yang jelas dan tidak emosional, jembatan dalam menghubungkan orang-orang di kedua keluarga dan juga penyaring yang maksudnya adalah tidak serta merta menyampaikan apa yang dikatakan suatu pihak kepada pihak lainnya secara mentah-mentah. Saringlah berdasarkan perlu atau tidaknya hal tersebut dan ubahlah kata-kata emosional menjadi kata-kata yang berfokus pada tindakan dan saran yang membangun. Memang butuh kedewasaan dan kesabaran dalam menjalankan peran-peran ini. Kedewasaan ditandai dengan kemampuan seseorang memisahkan antara pikiran dan perasaan, jadi tidak seluruhnya langsung dimasukkan ke hati dan direaksikan secara emosional. Kesabaran ditandai dengan kemampuan seseorang menunda reaksinya terhadap suatu kejadian, jadi seperti ada sponge yang menyerap perasaan itu dahulu, dan diolah sebelum dikeluarkan lewat suatu reaksi. Peran-peran ini sangat penting dipertahankan karena hubungan dengan keluarga besar akan terus berlanjut walupun hari perayaan pernikahannya sudah selesai. Ketegangan mendekati hari pernikahan antara kedua pasangan dan juga antara anggota keluarga memang sering dan wajar terjadi karena beberapa hal. Yang pertama adanya ekpektasi bahwa hari pernikahan itu harus sempurna. Kedua, lancar atau tidaknya hari pernikahan sering kali dijadikan”pertanda”mengenai sukses-tidaknya hubungan di antara mempelai kelak, sehingga orang-orang menjadi tegang dan secara tidak sadar berfokus pada “apa kejadian buruk yang akan terjadi”. Tiga, banyak pula keluarga dan pasangan yang akan menikah melupakan fokus utama dari hubungan tersebut. Yang lebih penting sebenarnya adalah pernikahan (the marriage) bukanlah hari pernikahan (the wedding). Bergesernya fokus ini sering menjadi “kendaraan” bagi “ego” dan “haga diri keluarga”untuk muncul ke permukaan. Karena ketiga hal di atas, banyak orang yang terlibat secara sadar dan tidak sadar menjadi terlalu “menuntut” kesempurnaan. Tuntutan dan tekanan ini lah yang sebenarnya membuat persiapan dan hari pernikahan itu menjadi tidak bisa dinikmati lagi. Jadi satu hal lagi yang anda dan pasangan bisa lakukan ketika ketegangan mengenai hari perkawinan terjadi adalah saling mengingatkan bahwa pernikahan itu lebih penting daripada “hari H”nya, dan ingatkan untuk menggunakan logika dibandingkan emosi. Juga, fokuskanlah diri anda dan pasangan pada hal-hal yang lebih penting, misalnya bagaimana setelah menikah kalian akan menghidupi diri sendiri, bagaimana mengatur keuangan, apakah kedudukan anda berdua selalu sejajar atau salah satu akan ada yang lebih dominan, apakah kedua belah pihak akan bekerja, bagaimana menyeimbangkan waktu antara waktu berdua dengan waktu untuk keluarga, teman dan pekerjaan. Work hard on your upcomming marriage!
Dear Lia, Hubunganku dengan suami akhir-akhir ini rasanya mulai hambar. Jarang ada saat romantis, dan nggak ada sparks lagi. Nggak ada kejutan, seks spontan ataupun quicky lagi, pokoknya sudah beda sekali. Apakah ini disebabkan pekerjaan kami berdua? Saya menikah dengan WNA dan tinggal di negara suami, maka kami harus bekerja untuk mensupport keluarga dengan jadwal kerja berlawanan, dengan pertimbangan tidak mau menaruh anak di tempat penitipan. Ketika suami pergi kerja saya masih tidur, dan ketika dia pulang saya harus berangkat kerja. Waktu kami mencoba bermesraan hanya Sabtu, itu pun biasa saja. Pernah suatu kali saya membangunkan dia untuk berhubungan, tetapi dia menolak dan bilang, “Yang bener aja, what’s wrong with you?” Rasanya sakit sekali ditolak begitu. Saya jadi malas berinisiatif lagi. Bagaimana membuat perkawinan kami menjadi lebih menyenangkan dan chemistry-nya nyambung lagi? Kami baru bersama sekitar 4,5 tahun tapi kalau sedang membosankan begini seperti orang yang sudah menikah 15 tahunan deh. Kami berbeda 12 tahun, dia akan menginjak usia 40 tahun. Saya kan masih muda, dan masih memiliki keinginan yang tinggi, tapi saya takut ditolak lagi. Please, apa yang harus saya lakukan? Thanks Della, UK Hi Della, Yang pertama harus disadari adalah masalah prioritas keluarga dan konsekuensinya karena semua berawal dari sana. Kedua adalah rasa embarrassed karena pernah ditolak, dan bagaimana cara mengembalikan greget-nya ini. Dengan menghindari daycare anda berdua memilih kerja yang jamnya berlawanan. Sayangnya yang jadi “korban” adalah hubungan pribadi kalian. Jika keputusan yang diambil as a couple atau pribadi punya efek samping yang tidak bagus, biasanya itu bukanlah keputusan terbaik. Komunikasikan, teliti, dan evaluasi lagi tentang keputusan kalian mengenai daycare ini, serta efeknya ke kehidupan pribadi kalian. Katakan kalau Della “miss having normal hours.” Sebagai konsekuensi tentunya kalian harus keluar uang untuk daycare. Cari tahu tentang policy mengenai daycare dari kantor suami, karena beberapa kantor memberikan fasilitas pengasuhan anak gratis. Menitipkan anak di daycare juga banyak manfaatnya, seperti anak belajar bersosialisasi. Selama waktu kalian bersama memiliki kualitas yang baik, anak tidak akan jadi jauh dengan orang tuanya hanya karena dititipkan. Yang kedua adalah masalah initiating sex. Terkadang perempuan yang dibesarkan di keluarga yang menganut nilai tradisional secara langsung dan tidak langsung diajarkan bahwa perempuan 'baik-baik' adalah perempuan yang ada di-receiving end, terutama soal seks. Jadi terkadang, kalau aktif memulai terlebih dahulu kita jadi gusar sendiri. Apa lagi setelah memulai lalu di tolak. Apa yang diajarkan sedari kecil semakin menancap bahwa perempuan baik-baik memang tidak sepantasnya "meminta". Ini lah yang membuat rasa malu, seolah-olah kita sudah jadi anak nakal yang terkena akibat perbuatannya. Rasa malu ini tidak mengenakkan, yang mengaktifkan sistem mekanisme pertahanan diri dan membuat kita berpikir, "Ih, emang gue cewek apaan minta-minta gitu?" Pikiran inilah yang mencegah Della untuk menginisiatifkannya lagi. Untuk masalah ini yang mungkin perlu diubah adalah attitude menyoal seks. Caranya? Della harus bicara lebih lanjut dengan orang yang profesional, misalnya seks therapist atau marriage and family therapist. Kalo attitude-nya berubah, biasanya komentar begitu tidak dimasukin ke hati. Tak perlu malu, untuk masalah seks ada banyak gunanya kalau orang tidak mudah tersinggung. seks memang bukan bagian yang terpenting dalam kehidupan perkawinan. Jadi penting karena seseorang bisa mengkespresikan perasaan nyamannya berada di dekat pasangannya. Hal ini disebabkan oleh keluarnya hormon Oxytocin setelah keduanya mengalami orgasme. Hormon ini berguna “melekatkan” pasangan agar mereka bisa tetap dekat ketika meneruskan keturunan. Ada fungsi biologisnya kalau dilihat dari sudut pandang evolusi. Kalau ada masalah lain dalam komunikasi atau intimacy, biasanya seks ini yang seolah-olah terganggu terlebih dahulu. Tingkat sexual bliss tidak akan konstan dalam kehidupan perkawinan kita. Sangat tidak realistis bila menuntut hal ini akan sama terus, karena akan menambah rasa kecewa anda. Apabila sekarang ada penurunan, itu wajar mengingat waktu yang berbeda, stres dan komunikasi yang kurang lancar. Jadi ajak suami bicara, tanya apa perasaannya, harapannya, dan bicarakan bagaimana kalian bisa bekerja sama untuk mewujudkan keinginan. Karena tidak biasa bicara soal seks, anda berdua memang harus mempersiapkan diri untuk saling terbuka dan mau mendengarkan, serta meninggalkan sifat defensif. Ketika komunikasinya lancar, biasanya seksnya akan balik sendiri. Lalu, mulailah bereksperimen lagi dengan waktu dan gaya baru. Dan jangan lupa “just have fun with it…”
| Start: | Feb 12, '08 08:30a | | Location: | Radio Female Jakarta 99.5 |
Ngomongin ttg perasaan, ketakutan, ilusi2x dan kenyataan yang orang harus pikirin seputar masa sebelum perkawinan..
| Start: | Jan 25, '08 11:00a | | End: | Jan 25, '08 12:00p | | Location: | Cosmopolitan Radio- Jakarta |
The what, when, why, where and hows of Intercultural Relationship atas informasi dari Sitha.. radio ini bisa didengarkan lewat internet Silakan ke sini buat yang mau denger Cosmo dan beberapa radio lain. Tp ingat perbedaan waktunya yaa... http://www.surfmusic.de/country/indonesia.htmlthanks tha!!

|  | Di album foto ini sebenernya ada 2 event .. Yang pertama itu yang foto2x Jason dengan wedding cake kita dan yang ke dua acara dinner kemaren... Jadi ceritanya yang pertama dulu yaa.. jadi waktu abis kawinan yang di Des Moines tanggal 3 maret 2007 itu, aku baru tau kalo di Amerika itu ada custom kalo sebagian dari kue kawinan itu di simpen di freezer (setelah dibungkus berlapis lapis dengan cling film dan aluminium foil) untuk di makan pada ulang tahun pertama perkawinan.. Aku pikir, that is just too cute... gitu.. abis aku kan gak pernah dengar.. Lagian ngeliat barang2x yang di pake waktu kawinan emang ngebawa lagi ke suasana senengnya pada waktu itu... Nahhh waktu kita liburan ke Des Moines kemaren kan emang cuma sampe tanggal 8, belon anniversary juga siihhh.. tapi kan kita gak akan balik lagi sampai dengan christmas berikutnya .. jadi deh kita makan kue itu earlier than our anniversary hehehehhe.. Ternyata rasanya gak berubah.. masih enak dan moist , tapi karena beku banget ya jadi kayak makan ice cake, mending ice cream cake.. hahahhaha.. untungnya kuenya itu kan coklat pake frostingnya mint , jadi kayaknya enak-anak aja di makan dalam keadaan beku gitu, walaupun motongnya setengah mati, gak ada manis2xnya... Seperti bisa diliat di foto, Jason motongnya kayak siap menikam musuh gitu hehehhehe terus biasa dong kita berdua kan iseng yaaa.. jadi dari kue yang sisa kita rapiin lagi kita bungkus lagi kita taro di kaleng kita balikin ke freezer lagi karena kita mau liat gimana nasibnya tahun depan .. heheheheh Nahhh waktu acara anniversary dinner yang beneran kemaren, aku masak sendiri.. abis kan bingung, disuruh bkap nyari restoran terserah mau ke mana, nanti bokap yang traktir katanya.. tapi karena di jakarta itu kebanyakan restoran, dan macet, aku udah nggak kepikir banget mau makan dimana.. kata jason, karena kita selalu masak berdua di rumah buat occasion valentine, kenapa nggak masakin aja buat bonok makanan yang spesial gitu..ya sudahlah namanya juga banci dapur, ya gue emang mendingan masak banget... jadi ini menunya: Soup: Potato and Carrot Rustic Soup with Tarragon Oil and Creme Fraiche Cheese Plate: Baked Brie with Fruits and Baguette and Cranberry raisin cinnamon chutney Appetizers: Herbed cheese filled puff pastry and tiger prawn wrapped in turkey bacon. Salad: Endive and Rocket Salad with Bleu Cheese and Candied Pecans and Vin Rouge Vinnaigrette Main Course: Fetta and Basil Chicken Roullade with Beurre Blac sauce and Pasta Au Gratin Dessert: Pink Tiramisu Hehehheeh puwasss.. ini menunya ada beberapa yang ngulang menu waktu dinner ma KD dan Becky, tapi itu requestnya Jason gimana dooongg, daripada laki gue jadi gak makan kan??? heheheh Waktu makan kan course by course gitu yaa.. si bokap dan nyokap senyum2x ters yang kayaknya nikmaaat banget asli makannya pelan2x ... Si nokap sibuk dengan brie dan buahnya karena itu emang kesukaannya dia.. si bokap on the other hand sibuk nyampur2x yang kadang jadi gak keruan misalnya..masak si chutney yang buat cheese dia taro di sup heheh nggak kebayang padahal si supnya itu kan earthy savory gitu rasanya.. menurut bokap sih enak2x aja.. gak tau udah kadung kali hehehe.. sementara gue paling seneng makan bleu cheese pake anggur atau di atas baguette terus pake chutney.. nyemmm.. nyemmmm.. Pokoknya the dinner went well.. gue seneng bokap nyokap doyan apa yang dimasak... legaaa.. But setelah bonyok pulang gue en jason masih musti berurusan dengan piring2x dan alat masak yang kudu di cuci secara nggak ada pembantu atawa dish washer hehehehhe nasiiibbb nasiiibbbb...... |
 I found this really interesting article.. Eventhough it is not based on scientific research, nevertheless the writer showed a very good observation skill!! If we want to be really honest about ourselves, we often do at least one of these things consciously or unconsciously in our marriqage/ or other relationships... Now that we made "the unconscious" more "conscious" how much power do you think we have to avoid these things? Are you happily married? Would you like to be happily married? Are you looking for ways to have a happy marriage? Take a look at 7 ways to ruin a marriage below. These can be equally applied to both husbands and wives. If you avoid these 7 things – you’ll be a step closer to a happy marriage. 7) Hold things in – don’t communicate with your spouse about “issues” in your marriage. Wait until that tiny problem has grown into a big problem – then start a fight about it. 6) Spend more time with your friends than with your spouse. If your friend wants to do something fun – leave your spouse at home – he/she probably wouldn’t enjoy the outing anyway. 5) Since you might not want to have sex when your spouse does – make sure you get your way. Don’t let him/her have the pleasure of sexual fulfillment in your marriage. After all, you’re tired, you’ve been working all day, you should only have sex when you want it, right? And never do anything sexual that you don’t want to do – regardless of how much it means to your spouse – it’s all about you, right? 4) When you have a disagreement with your spouse – don’t attack the problem – focus the blame directly on your spouse. Bring up everything you can think of to back up your point. Think back years and years – use little instances in the past to further prove to your spouse that you’re right. After all, since you’re right about this disagreement – you should win the argument. 3) Make sure you stay in touch with your old boyfriends and girlfriends – after all, they’re just friends. While you’re at it – make new friends with the opposite sex – these relationships are healthy – you need to have a lot of friendships with members of the opposite sex in order to have a healthy marriage. And be sure to talk about these "friends" to your spouse as much as possible. 2) Be as negative as you can around your spouse. After all, you’ve had a hard day, you’ve been done wrong, you don’t feel well – make sure you’re spouse knows you’re in a bad mood and take it out on he/she. It’s your right isn’t it? 1) Be disrespectful toward your spouse every chance you get. Put he/she down in front of others. Never give your spouse a compliment and never say encouraging things to one another. Be sure to treat your spouse as if you’re a superior being – after all, you probably are, right?
| |