natalia's posts with tag: ijin praktek

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag ijin praktek
Blog EntryLia di Tabloid Wanita IndonesiaMar 3, '08 1:02 AM
for everyone

Hai temans, hasil wawancara yang aku cerita dulu itu udah ada di Tabloid Wanita Indonesia sekarang, yang cover depannya Cinta Laura... Beli yaaa... minggu depan, artikel ini dah bisa di akses dari websitenya Tabloid WI di http://www.tabloid-wanita-indonesia.com .. nanti kalo dah bisa, aku akan paste lagi disini yaa.. jadi yang pada di luar sana (luar planet maksudnya) sabar2x dulu yaaa.. and keep checking in.. hehehehhe ...

Makasih buat mbak aien, yang udah juara nulis artikel ini.. tapi mulai kapan aku jadi pencinta musik Country mbak?? Orang anak metal gini koookk... terus terang aku mending dengerin dangdut daripada musik country huwhahahahhaha .... serius nih, lagu sakit gigi doang sih apaaallll....

Artikel ini di post sama"boss" nya Himpunan Psikologi Indonesia cabang Jakartya Raya di mailing list Psikologi Indonesia , karena selama ini ternyata banyak bener psikolog yang ijin prakteknya dah kadaluwarsa aja masih berani praktek dan juga banyak yang belon banyak punya pengalaman itu nggak mau di supervise.. Jadi teman2x, kalo mau pake jasa psikolog, jangan lupa ya pliiiis, tanyain ijin prakteknya dan minta liat kartu ijin praktek, karena semua yang punya surat ijin pasti punya kartu ini.. jadi minta liatin buktinya yaaa.. kalo nggak, jangan mau ke psikolog ini karena "mutunyaa' nggak terjamin.. emang mau, ke dokter yang gak punya ijin praktek..????

Ini keadaan yang kita lagi kerjain sedikit2x.. aku aktif jadi pengurus di Himpunan Psikolog Indonesia ini di bagian Pengembangan Profesi.. sayangnya, banyak bener yang resist perubahan.. ya iyalah dah keenakan gak ada yang ngawasin.. hhh sedih yaaa.... Ini dia wawancaranya

Natalia Indrasari
KARENA HIDUP DIWARNAI SIMBOL

Urusan pernikahan dan keluarga, jangan dianggap sepele. Untuk itu, Lia memutuskan menjadi Marriage and Family Therapist.

Maret tahun lalu, Lisensi tersebut berhasil di peroleh Lia melalui perjuangan keras.

Kini, wanita bernama lengkap Natalia Indrasari ini bangga menjadi psikolog yang khusus menangani masalah pernikahan dan keluarga. Sebuah profesi yang sangat langka di Indonesia.
 

Dua Kali Ambil S2

Tahun 1998, Lia lulus dari Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Inilah awal perjalanan karir bungsu mantan Wapres RI Jenderal (Purn)Try Soetrisno.

Karena setelah itu, Lia memutuskan pindah ke Inggris untuk mengambil S2 di Ctr For Psychoanalytic Studies di University of Essex-UK.

“Kenapa saya ambil bidang itu? Karena saya melihat bahwa hidup manusia ada perwakilan simbol-simbol. Sementara kita hidup di culture yang penuh simbol-simbol. Misalnya ada istilah nujuh bulanan dan sebagainya. Nah, manusia yang hidup di budaya dengan simbol-simbol, tentu berbeda dengan yang hidup di budaya yang tidak memakai simbol-simbol ini, contohnya di Barat,” terang Lia.

Lulus kuliah, Lia ternyata masih bersemangat memperdalam keahliannya sebagai pakar analisa psikologi. Ia melihat kesempatan itu. Salah satunya melanjutkan pendidikan psychoanalytic studies selama 6 hingga 8 tahun.

“Akhirnya saya ambil kesempatan ini. Tetapi setelah saya ambil, saya baru tahu kalau saya harus ambil doktorat-nya psikologi yang bukan penelitian tetapi yang praktek,” ujar Lia.

Dan program tersebut, kata Lia, di Inggris hanya diperuntukan warga negara Eropa, karena dibiayai pemerintah Inggris. Beruntung program tersebut ada di Amerika, dan Lia segera mendaftar.

“Seperti piramida, saya akhirnya ambil S2 lagi yang berbeda. Tujuan saya supaya S3-nya nanti akan mengatasi dua S2 yang telah saya ambil. Saat itu, S2 yang saya ambil bidang perkawinan dan keluarga. Tidak khusus anak saja, tetapi saya juga tertarik dengan orang dewasa yang gedein anak,” ujar Lia.

Tahun 2004 Lia mengambil S2 khusus Marriage and Family Therapist di Chaminade University of Honolulu-Hawai.


1500 Jam Kerja

Hal penting yang didapat Lia adalah, “bahwa di Amerika, setelah lulus master marriage & family therapist, ternyata tidak langsung dapat license untuk praktek. Saya meski kerja mengumpulkan jam keja, minimal 1500 jam ditambah jam supervisi selama 250 jam yang diawasi. Dan waktunya itu tidak kurang dari 2 tahun. Kerja yang khusus menangani keluarga dan perkawinan.”

“Tidak semua psikolog itu terlatih untuk masalah marriage & family therapist,” tegas Lia

Dilihat dari teori saja, menurut Lia sudah beda.

“Menangani satu orang dengan menangani banyak orang dalam sistem keluarga, itu dinamikanya besar sekali. Jadi pendidikannya khusus banget.”

“Kalau dilihat dari sudut psikologinya, MFT memang spesialisasi. Tetapi di dalam MFT itu, masih ada spesialisasinya sendiri. Yang aku ambil itu sex therapist, pre-marry consuling dan divorce consuling. Sekarang yang sedang aku penuhi untuk PhD adalah mix marriage atau pernikahan campuran,” jelas Lia.

Sistem pendidikan yang dijalani Lia ternyata sangat ketat.

Selama 2 tahun, Lia juga harus bertemu supervisor untuk berbincang-bincang tentang kehidupan sehari-hari, “apakah ada kemungkinkan hidup saya berpengaruh pada pekerjaan.”

“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, di luar negeri kita punya therapist sendiri. Setiap 1 jam kita ketemu klien, kita itu perlu di briefing lagi selama 3 jam. Bayangkan, kalau saya punya 20 klien, saya perlu 60 jam di briefing. Yang bisa membriefing saya tentu orang yang lebih senior,” ujar Lia.

Lia menyayangkan karena mekanisme seperti itu belum dilakukan di Indonesia.

“Jadi kasihan psikolog-nya. Kalau dia punya masalah pribadi dan dia harus mengatasi masalah kliennya, kemungkinan dia bisa mencampur adukkan masalahnya itu,” ujar Lia.
 

Atasi Mental Tentara Amerika

Sebelum lulus S2, Lia harus mengikuti training 1 tahun untuk mengumpulkan 350 jam kerja.

“Kalau kita mau dapat pengalaman yang bagus, kita harus dapat tempat yang intensif juga. Di Hawai tempat yang paling bagus itu kalau kita bisa di Rumah Sakit Angkatan Darat Amerika. Di sana ada klinik khusus yang dinamai Marriage & Family Therapist Clinic, di dalam barak,” ujar Lia.

Untuk magang di RS AD milik tentara Amerika ini syaratnya sangat ketat.

“Indeks Prestasi harus 4, berarti nilai A semua. Dapat rekomendasi dari dosen minimal 2, dan di interviewed. Padahal mereka cuma ambil 3. Waktu itu ada 13 orang yang daftar. Syukurlah akhirnya saya diterima juga,” kenang Lia, senang.

Ada dua divisi yang harus ditangani Lia. Divisi Mental Health dan divisi Marriage and Family Therapist. Mental health, jelas Lia, menangani mental tentara-tentaranya.

“Misalnya apakah tentaranya punya masalah depresi, kecemasan dan sebagainya. Kita mengetes orang-orang yang mau diberangkatkan ke Irak dan Afghanistan,” ujar Lia.

“Tugasku melihat apakah tentara itu layak pergi atau tidak. Tanggung jawabnya besar sekali. Kalau tiba-tiba kita bilang layak pergi tapi di sana dia nembak orang, nah bagaimana? Kalau kita bilang tidak layak padahal dia benar-benar di butuhkan, bagaimana?” lanjut Lia.

Setiap hari, Lia harus berangkat kerja jam 7 pagi. Ia harus menangani 4 klien. Jam 3 sore ia harus sudah memasukkan semua data ke dalam sistem komputer AD, kemudian menunggu hingga laporannya ditandatangani supervisor. Jam 5 sore ia sudah harus sampai di kampus untuk kuliah.

Tak hanya itu, di kamp militer tentara ini Lia juga menangani keluarga para tentara yang beraneka ragam.

“Kalau ada kasus kekerasan dalam rumah tangga di dalam tentara, di klinik itu ada yang namanya family advocacy. Di situ, keluarga ini dipisah. Yang suaminya belajar manage anger dimana dia belajar tidak gebuk-gebukin orang, dan istrinya diajarkan lebih empower, jangan terima aja, kalau misalnya suami mukul,” jelas Lia.

 

One Stop Clinic

Meski sempat akan ‘dibajak’ RS AD Amerika, Lia yang menikah dengan Jason, pria asal Amerika, memilih pulang ke Indonesia.

Saat ini, Lia tengah bekerjasama dengan Krisdayanti. Mereka mendirikan  perusahaan yang diberi nama FemPower Global. Gabungan kata dari Feminine Power dan Empower, berarti kekuatan perempuan dan pemberdayaan.

Kenapa KD? “Karena dia besar di dunianya. Dia orang yang sangat kuat. Saya kenal dia sejak jaman SMA, dan dia tidak pernah berubah,” lanjut Lia.

“Saya orang psikologi, tetapi di tempat ini aku belajar banyak tentang detail industri di dunia bisnis. KD juga tidak tahu dunia psikolgi atau orang-orang. Jadi dia belajar banyak memenej orang. Kita jadi saling belajar,” ujar Lia.

“Cita-cita, kita mau bikin TV Show yang seperti Oprah, tetapi tidak sama persis. Talkshow yang tidak hanya gosip-gosip atau becanda-becanda. Tetapi kita ngomongin hal serius dengan cara yang tidak serius. Dengan topik-topik yang tidak berani orang angkat. Misalnya homosexuality, UU keimigrasian, anak-anak korban perkosaan, masalah seksual. Menurutku hal-hal itu harus diangkat, karena ini positif,” ujar wanita yang tengah menulis buku tentang perkawinan campuran ini, bangga. 

Cita-cita lainnya, “Saya ingin bikin one stop clinic yang menangani keluarga di bidang psikologis, mulai dari anak sampai orang tuanya. Tujuannya bukan hanya sebagai tempat dimana orang datang berobat. Tetapi jadi learning centre, atau tempat belajar mahasiswa-mahasiswa yang bakal jadi psikolog. Tempat magang, tetapi harus qualified. Tidak hanya bisa bahasa Inggris saja, tetapi dia juga harus bisa meng-counter. Orang-orang yang keluar dari situ, punya pegnalaman lain selain akademik, dia jadi lebih profesional. Tapi itu butuh biaya dan tempat yang besar. Mudah-mudahan tahun 2009 tempat sudah ada,” ujar Lia optimis
 

Klien Harus Jujur

Apapun profesi yang tengah dijalani Lia, hati wanita senang musik country ini tetap akan berlabuh pada tugas utamanya sebagai terapis.

“Karena tugas terapis adalah melatih orang untuk merubah tingkah laku. Bukan hanya sekedar tempat curhat,” ujar Lia.

Sebagai terapis, “kita justru tidak bisa kasih tahu mereka apa yang dia buat. Itu harus keluar dari mereka sendiri. Tugas saya menuntun klien saya untuk membuat keputusan terbaik,” ujar Lia.

“Untuk itu konsekuensinya dia harus cerita semua, harus jujur dengan dirinya sendiri. Banyak orang yang ke psikolog tidak jujur dan tidak cerita semua. Kalau tidak jujur, bagaimana kita bisa ambil keputusan terbaik karena semuanya tidak ada di atas meja. Kalau kita buka semua, kita tahu mana yang jelek dan mana yang bagus. Kita akan coba cari cara. Kalau tidak berhasil, coba cara lainnya, sampai ketemu solusi yang terbaik,” lanjut Lia.

Dan apablla terjadi masalah pernikahan, “sebaiknya cari pihak ketiga yang tidak kenal dengan kita. Yang bisa kasih masukan yang positif buat keduanya. Dicari bukan siapa yang salah tapi apa yang salah. Karena kadang-kadang masalah pernikahan kalau di selesaikan dalam keluarga besar, kadang malah jadi berantakan. Karena banyak yang turut campur,” tegas Lia, tersenyum


© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help